Dirosah Arabia

0 komentar

Pada hari ahad, 2 Februari 2020, di sekolah ada kegiatan Dirosah arabia. Dirosah arabia adalah kegiatan belajar bahasa arab  yang dilakukan sehari di dalam kelas. Kemarin sabtu, kelas 1-2 yang mengikuti dirosah arabia. Hari ini, giliran kelas 3-8 yang ikut dirosah arabia. Kami disuruh datang pukul 08.00 wita dan memakai baju muslim ke sekolah. Kami juga disuruh membawa uang rp25.000 untuk berinfaq. Infaq itu dipakai membayar makan siang dan snack sore.

Saat saya sampai di sekolah, saya menyimpan tas dan disuruh duduk di karpet. murid  kelas  3-8 berkumpul di ruangan kelas 4 untuk belajar. Ada uztad baru yang mengajar bahasa arab, namanya Abdul Rahim, dipanggil uztad Rahim. Uztad Rahim mengajarkan kosa bahasa arab beserta artinya. Kadang-kadang ada permainan dan lagu. Ketika jam menunjukkan pukul 10.00 wita, saatnya kami makan snack.

Kami makan di luar ruangan. Setelah itu, kami disuruh mencuci  tangan. Tetapi, sesudah itu tidak langsung masuk ke dalam kelas. Kami mengantri dan menghafal lalu dites kosa kata yang sudah dipelajari oleh uztazah. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas untuk mengambil buku dan melihat catatan yang sudah ditulis. Ketika semuanya sudah dites, kami pun mengucapkan doa sesudah makan. Lalu kami menyanyi bersama lagu bahasa arab yang sudah dituliskan di papan tulis. Semenjak sudah makan snack, kami juga bernyanyi dan menghafal kosa kata jari tangan.


Ketika waktu dhuhur telah tiba, para ikhwan berwudhu dan pergi ke masjid. Sementara akhwat sholat di dalam kelas. Setelah kami sholat, kami makan siang. Semua peserta dirosah arabia tidak diperbolehkan membawa bekal makan siang karena uang 25.000 yang sudah di infaq akan dipakai membayar catering dan snack sore.

Sesudah makan siang, kami dites oleh uztadzah kosa kata jari tangan beserta bahasa arabnya. Lalu kami baca doa setelah makan. Kemudian,  kami mengambil pensil warna untuk mewarnai kaligrafi.
Kelompokku (kelompok 1) terdiri dari 6 orang yaitu Naylah (IV), Nahda (IV), Nabilah(IV), Hikmah(V), Nayla (VII), dan Kahila (VIII). Saya, Nahda, dan Hikmah mewarnai mufrodat (kosa kata) stroberi. Nabilah, 

Nayla, dan Kahila mewarnai mufrodat anggur.
Beberapa menit kemudian, kami selesai mewarnai kaligrafi tersebut. Ketika semua sudah selesai mewarnai, uztadzah mengumumkan juara 1,2,3,4,5 dan 6.

Kelompok 1: juara 1
kelompok 2 :juara 2
kelompok 5 :juara 3
kelompok 4 :juara 4
kelompok 6 :juara 5, dan
kelompok 3 :juara 6

Kami semua berfoto dengan hadiah yang diperoleh bersama uztad Rahim. Setelah itu, kami dibagikan roti oleh uztazah. kami pun sholat ashar.
Karena Nabila sudah ada jemputan maka kami pun membuka hadiahnya. Kami mendapat 1 kotak beng-beng. Masing masing anggota kami mendapatkan 3 buah beng-beng. Lalu kami turun ke bawah dan berfoto di depan spanduk yang bertuliskan “DIROSAH ARABIA” Setelah itu, saya pun pulang ke rumah.

Hari ini menyenangkan. Sayang sekali hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun. Dalam kegiatan tersebut ada banyak hal yang lucu dan seru. Semoga yang membaca akan terhibur!!
 Selesai

Berkunjung ke PLTB Sidrap

4 komentar
Kami berencana akan outing di PLTB Sidrap pada hari jumat, 31 januari 2020. Sebelum  ke PLTB, kami kumpul di sekolah dulu. Siswa yang ikut hanya kelas III, IV, dan V. Setelah makan siang, kami mengganti baju di kamar mandi dengan baju olah raga. Ketika semua sudah siap, jam sudah menunjukkan pukul 13.30 wita, kami pun berangkat! 

Akhwat kelas IV dan V berangkat menggunakan mobil uztad Adi. Akhwat kelas III naik mobil uztad Sukirman. Ikhwan kelas III, IV, dan V menaiki mobil Angkot.

Ketika sampai di PLTB Sidrap, kami disuruh berbaris berdasarkan urutan kelas. Sebelum masuk ke dalam, kami di jelaskan dulu apa itu PLTB oleh seorang ibu petugas di sana. PLTB adalah singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/angin.

Kami dilarang berkeliaran di area PLTB karena di sana adalah area vital yang berarti bukan sembarang tempat. PLTB tidak sama ketika kita pergi ke tempat lain seperti pasar, taman bermain, tempat wisata DLL. Di dalam bangunan tempat kami berkumpul, adalah tempat barang-barang disimpan. Di situ kami di jelaskan area-area apa saja yang berada di PLTB, fungsi PLTB, dan peraturan-peraturan yang berlaku di situ.

Di PLTB, ada tempat yang bernama gardu induk yang digunakan untuk menyimpan listrik yang dihasilkan dari kincir angin/turbin. Di dalam tiang kincir angin, ada tangga yang tingginya sampai 80 meter. Kalau ingin menaikinya, bisa pakai lift atau naik tangga. Tapi, kalau lagi diet silahkan naik tangga, hihihi! Di dalam tiang juga ada beberapa intalasi kabel yang akan mengirimkan listrik yang dihasilkan dari angin ke gardu induk. Setiap tiang dilengkapi 3 bilah yang digunakan sebagai kincir yang ukurannya 57 meter.

Pada pagi hari, kincir akan berputar sedikit cepat. Pada siang hari, kincir akan berputar lambat. Dan pada malam hari, memungkinkan kincir akan berputar kencang. Begitulah penjelasan ibu petugas.

Beberapa peraturan berlaku di area tersebut, di antaranya:

Pengunjung dilarang menggunakan celana pendek dan sandal. Memastikan menggunakan sepatu yang tepat. Dilarang masuk ke area semak-semak. Membuang sampah di tempat yang disediakan.

Setelah dijelaskan tentang PLTB, kami disilahkan keluar dan berfoto-foto.
Sesudah itu, kami naik ke mobil dan pergi ke mesjid untuk sholat ashar. Selama di jalan menuju mesjid, kami makan snack. Seusai kami sholat, kami kembali naik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Karena bapak lagi ada di Makassar, jadi saya diantar sampai ke rumah oleh uztad Adi. Saya sangat senang bisa pergi ke PLTB Sidrap. Saya bisa tahu banyak hal dan pelajaran setelah dari situ. PLTB dapat menghasilkan listrik dari  kincir angin.


diperlihatkan peta kincir angin

menonton video tentang PLTB


berfoto bersama

dijelaskan kegunaan alat-alat



ditunjukkan baling-baling

berfoto dekat baling-baling

Memungut Kucing Di Jalanan

0 komentar
“Ahmaad!! Cepat kamu siap-siap, kita mau ke super market nih!” panggil Ibu.

“Iya bu!” jawab Ahmad sambil berlari ke arah mobil.

Hari ini banyak yang kurang di kulkas. Ayah, ibu, Ahmad dan adik-adik mau ke super market untuk membeli yang kurang.
sumber :Pixabay.com

Sesampainya di super market....

“Ibu, tadi aku lihat ada anak kucing yang sakit di jalanan, aku kasihan kepadanya. Kucing itu berwarna putih dengan belang kuning” kata Aulia.

“Oh, nanti ibu lihat kucingnya ya” kata ibu.

Ketika keluar dari super market....

“Ibu, itu kucingnya! Kasihannya” kata Aulia sambil menunjuk ke arah kucing.

“Gimana kalau kita bawa pulang dan kita rawat?” usul Azizah

“Ide bagus! Nanti kalau sudah sampai di rumah ayah akan buatkan tempat tidur dari  kardus bekas” kata ayah.

“Dan kita juga buatkan dia tempat buat buang air besar” kata Ahmad.

“Tapi kamu harus selalu membersihkannya” kata  ibu.

“Iya bu!”

Sesampainya di rumah....

“Ahmad, tolong simpan ini di kulkas! Ibu mau mandikan dulu kucingnya” kata ibu yang berada di kamar mandi.

“Baik bu” jawab Ahmad.

Setelah kucingnya dimandikan.....

“Hmmm... wanginya sudah mandi!” kata Aulia.

“Sebelum kita baringkan, kita keringkan kucingnya menggunakan hair dryer ibu” kata Ahmad.

Setelah mengeringkan kucingnya....

“Nama apa ya bagus kita berikan untuknya?” tanya Ahmad.

“Kulihat dia (kucingnya) betina, jadi kita berikan saja nama perempuan” kata Ayah.

“Hmm.... Gimana kalau Nira saja namanya?” usul Aulia.

“Iya, mulai sekarang kita panggil dia Nira kita rawat dia sampai sembuh” kata ibu.

“Kita harus beri dia makan dulu supaya bertenaga” kata Ahmad.

“Coba kita beri dia ikan dan sedikit nasi, pasti dia mau” kata ayah.

Tapi, beberapa kali diberikan makanan, Nira tetap tidak mau memakannya. Sampai akhirnya Ahmad bertanya...

“Ibu, kok Nira tidak mau memakannya? Dan dia juga tak bisa mengeong?” tanya Ahmad sambil mengelus Nira.

“Mungkin dia sangat kesakitan sehingga tidak mau makan. Kayaknya barusan tadi ditabrak mobil atau motor” kata ibu.

“Hmm... mungkin besok dia akan memakannya. Kita baringkan saja dulu” kata ayah.

Keesokan harinya....

“Hei Ahmad! Lihat ini! Nira mau memakan ikannya! Dia juga sudah bisa mengeong sedikit. Namun, dia masih belum terlalu bisa jalan” seru ibu dengan wajah gembira.

“Wah bagus tuh kalau gitu” timpal Ahmad. Dia kemudian mendekati si Nira.

Tidak berapa lama kemudian datanglah Ayu dengan adiknya Doni (tetangga Ahmad)

“Assalamu alaikum! Ahmad!” terdengar suara Ayu dan Doni dari luar rumah.

“Wa’alaikum salam. Ayo masuk!” ajak Ahmad

“Wah, kamu punya kucing baru ya Ahmad?” tanya Ayu sambil mengelus kucing di depan Ahmad.

“Iya. Sebenarnya ini bukan kucingku, dia aku temukan di depan super market sedang tergeletak kesakitan kemarin” jelas Ahmad.

“Aku boleh enggak menggendongnya?” tanya Doni yang sudah menggendong Nira.

“Jangaaan! Dia sedang sakit!” seru Ahmad kepada Doni.

Ayu pun mengambil kucing itu dari genggaman Doni lalu meletakkannya di lantai.

“Doni, apaan sih kamu. Kok kamu malah gendong kucingnya? Kamu kan lihat dia jalannya pincang-pincang” kata Ayu memarahi adiknya sambil mengelus Nira.

“Apaan sih kakak! Aku kan belum tahu kalau dia sakit!” bentak Doni.

“Sudah! Ayo kita bermain dengannya menggunakan tali dan benang” putus Ahmad.

Tapi, kucingnya belum mau bermain.

“Tuh kan! Gara-gara kamu gendong dia, sakitnya makin parah” Ayu kembali memarahi Doni

“Ah! Kenapa kakak selalu mengomel sih? Di rumah, di rumah Ahmad, di sekolah juga. Huh!” protes Doni yang selalu dimarahi oleh kakaknya.

“Ahmad, kami pulang ya! Assalamu alaikum!” kata Ayu sambil melambaikan tangan.

“Wa’alaikum salam!” jawab Ahmad yang juga melambaikan tangan.

Kemudian, Ahmad meletakkan Nira di tempat tidurnya. Lalu, Ahmad pergi ke kamar ibu.

Ahmad bertanya kepada ibu. “Ibu, berapa lama Nira akan di rawat di sini?”

“Sampai dia sembuh” singkat ibu.

“Bukankah itu memerlukan waktu yang lama?” tanya Ahmad kembali.

“Bisa jadi. Emangnya kenapa sih? Kamu malas merawatnya ya?” tanya ibu.

“Bukan begitu bu. Aku hanya ingin bertanya” jawab Ahmad.

Ahmad pun keluar dari kamar ibu. Dia kembali mencoba memberikan makanan kepada Nira.

“Lagi-lagi Nira tidak mau makan. Capek!” keluh Ahmad.                                                          

“Iya. Mungkin besok baru dia makan” sambung ayah.

Keesokan harinya....

“Kakak! Nira mau makan!” seru Aulia.

“Wah.... benarkah?” tanya Ahmad dan Azizah bersamaan.

“Iya! Tapi tidak banyak” kata Aulia sambil mengelus dagu Nira.

Begitu lah. Kadang-kadang Nira mau makan, kadang-kadang juga sedikit. Sampai akhirnya keadaan Nira lebih baik.

2 hari kemudian....

Hari ini, Nira sudah bisa mengeong, berjalan, dan makan. Ahmad pikir, mungkin rumah pemiliknya berada di sebelah super market. Karena, waktu Nira kesakitan, Nira berada di sisi super market. Kita sudah bisa mengembalikannya hari ini. Tapi, karena Aulia suka kucing, maka besok saja dikembalikan.

Ibu berkata “Wah... kucingnya sudah bisa melakukan semuanya. Saatnya kita kembalikan!”

“Huaaa..! jangan kembalikan Nira! Aulia sayang Nira!” rengek Aulia sambil menarik-narik rok ibu.

“Baiklah. Besok saja kita kembalikan” kata ibu.

Keesokan harinya....

“Ayo kita bawa kucingnya ke super market” kata ibu sambil menggendong kucing ke dalam mobil.

“Huh, baiklah” kata Aulia dengan wajah sedih karena akan kehilangan Nira.
Ketika sampai di super market....

“Risa!!! Sini kucingku!! Aku kira kamu telah mati!!” seru seorang wanita yang berlari ke arah Aulia yang sedang memegang Nira.

“Hai kak! Apakah ini kucing kakak?” tanya Aulia kepada wanita itu sambil menyerahkan kucingnya.

“Iya dik! Aku telah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak menemukannya. Ternyata kalian membawanya pulang” kata wanita itu sambil mengelus Nira.

“Ngomong-ngomong kamu beri dia nama apa?” tanya Azizah.

“Aku memberi dia nama dulu Risa. Beberapa hari yang lalu, dia tertabrak mobil. Aku kira dia telah mati, tapi ternyata kalian membawanya pulang dan merawatnya” jelas Gina (pemilik kucing)

“Oh kalau begitu, selamat tinggal Risa!” kata Aulia dengan wajah sedih.

“Tidak apa-apa! Kamu tidak perlu cemas. Kamu bisa pergi ke rumahku kalau mau bermain dengan Risa” Gina menghibur Aulia.

“Agar membuatmu senang, ayo kita beli es krim di super market” kata ibu.

“Yeay! Es krim!” seru Aulia dengan senang.

“Dadah Aulia! Kembali ke sini lagi ya!” kata Gina sambil melambaikan tangan.

“Dadah Gina! Aku pasti kembali!” kata Aulia yang melambaikan tangan.
Merekapun masuk ke super market dan membeli es krim yang diidamkan..

Berlibur dengan Rudy

0 komentar
Waktu liburan pun tiba!! Sesuai janji orang tua Rudy, Rudy mau diajak jalan-jalan oleh orang tuanya di hari pertama liburan. Rudy kemudian minta izin ke ibunya, kalau Rudy mau mengajak Ahmad ikut jalan-jalan.

“Ibu.... aku boleh mengajak Ahmad bu? Karena dia yang membantuku belajar sehingga aku mendapat nilai yang tinggi” pinta Rudy.

“Boleh. Cepat kamu pergi jemput Ahmad, karena mobil sudah mau berangkat” kata ibu.

“Iya bu!” kata Rudy.

Sementara di rumah Ahmad....

“Huh... membosankan lebih baik jika aku membaca buku ya?” kata Ahmad.

“Assalamualaikum” kata Rudy yang berada di luar.

"Wa’alaikumussalam. Ada apa ya Rudy?” tanya Ahmad.

“Eeeh.. aku mau ngajak kamu jalan-jalan nih.. kamu mau? Daripada kamu di rumah dan tidak ada yang kamu laku’in” ajak Rudy.

“Oke. Aku minta izin dulu sama orang tuaku” kata Ahmad.

“Ibu... boleh aku jalan-jalan dengan Rudy, bu?” tanya Ahmad kepada ibunya.

“Boleh. Kamu hati-hati ya! Ini ibu bawakan makanan, kalau-kalau kamu lapar” kata ibu.

“Baiklah bu. Assalamualaikum!” kata Ahmad.

“Wa’alaikkumussalam” jawab ibu.

Merekapun berangkat. Sesampainya di rumah Rudy... 

“Ayo cepat masuk! Nanti ketinggalan!” kata ibu Rudy.

“Baiklah bu!” kata Rudy.

“Kita mau kemana ya Rudy?” tanya Ahmad kepada Rudy.

“Pertama kita akan pergi ke Restoran Pelangi. Lalu setelah itu kamu akan menemukan banyak hal yang menyenangkan” kata Rudy.

Sesampainya di Restoran Pelangi..... 

“Ibu... aku mau pesan ayam goreng ya bu” kata Rudy.

“Kalau kamu Ahmad? Nanti tante pesankan” tanya ibu Rudy.

“Aku berbagi aja dengan Rudy, tante” kata Ahmad. 

“Iya. Kita berdua aja ya? Karena biasanya di rumahku aku tidak pernah menghabiskan makanan kalau aku makan sendirian” kata Rudy.

Setelah mereka makan.......

“Ayo kita naik ke mobil” kata ayah Rudy.

“Rudy, kamu bilang kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan. Apa itu Rudy?” tanya Ahmad yang semakin penasaran. 

“Nanti kamu lihat aja. Kita akan pergi ke taman hiburan” kata Rudy.

Sesampainya di taman hiburan....

“Wah.... aku jarang banget ke sini karena ibuku tidak punya banyak uang. Sekarang aku bisa ke sini lagi” kata Ahmad. 

“Sekarang kamu tak perlu khawatir. Nanti ibuku yang bayar kok” kata Rudy.

“Nah... sebelum kita masuk, kita diberi dulu stempel di tangan kita sebagai penanda bahwa kita sudah membayar” kata Ibu Rudy.

Ketika mereka masuk... 

“Apa yang kita mainkan pertama ya?” tanya Ahmad.

“Kita main roller coaster dulu yuk!” ajak Rudy.

“Apakah roller coasternya tidak terlalu tinggi?” tanya Ahmad yang sebenarnya takut ketinggian.

“Nggak kok. Ayo kita naik!” kata Rudy yang sudah tidak sabar.

Rudy dan Ahmad duduk di kursi depan. Ibu dan ayah Rudy duduk di belakang mereka. Semua orang yang naik harus memakai sabuk pengaman agar tidak terlempar.

“HUAAAAAAA!” teriak Ahmad yang sudah ketakutan.

“KYAAAAAA!” teriak semua orang ketika jalurnya terbalik.

Ketika sudah selesai.... 

“Hah! Hah! Hah!” Ahmad  kelelahan.

“Yang mana lagi ya kita mainkan?” tanya Rudy.

“Gimana kalau kita main.... seluncur air?” tanya Ahmad.

“Ide bagus! Kenapa tidak? Ayo kita main!” kata Rudy.

Mereka berempat pun naik ke kursi. Sama seperti tadi, Ahmad dan Rudy di depan, orang tua Rudy di belakang mereka. 

“WAAAAAA!” teriak semua orang yang naik akan turun ke air

BYUR! 

“Yaah! Baju kita basah semua deh!” kata Rudy.

“Gak apa-apa! Ini cuma sedikit kok!” kata ibu.

“Setelah ini, gimana kalau kita main trampolin? Supaya baju kita cepat kering” usul ayah.

“Iya juga yah! Ayo kita main! Di sana. Aku lihat tempatnya” kata Rudy sambil menunjuk ke arah kiri. 

Sesampainya di trampolin.... 

“Ayo kita main..!” kata Rudy sambil berlari ke arah trampolin.

“Eh! Tunggu!” kata Ahmad sambil menarik baju Rudy.

“Apaan sih?” tanya Rudy.

“Lihat peraturannya dulu!” kata Ibu.

“Sebelum masuk ke permainan trampolin, harus memakai kaos kaki” kata Ayah.

“Oh! Untung aku bawa kaos kaki! Aku pakai dulu kaos kakinya” kata Rudy.

“Aku juga bawa! Aku mau pakai!” kata Ahmad.

Setelah memakai kaos kaki...

“Ayo kita main!” kata Rudy.

“Ayo!” kata Ahmad 

“Dalam hitungan ketiga, 1... 2... 3..... lompat!!!” kata Rudy.

Hup! Doing! Doing! 

“Itu tadi seru sekali!” kata Rudy.

“Iya! Ayo kita lompat lagi!” kata Ahmad.

Setelah sekian lama melompat-lompat....

“Fiuh.. aku capek!” kata Ahmad.

“Aku juga! Aku mau minum!” kata Rudy sambil membuka tasnya untuk mengambil air minum.

“Lho? Kok habis?” kata Rudy.

“Iya! Punyaku juga habis!” kata Ahmad.

“Ibu juga!” kata ibu Rudy.

“Ayah juga!” kata ayah Rudy.

“Gimana nih? Kita mau cari air minum di mana?” tanya Ahmad.

“Huaaa! Masa kita minum air got?” kata Rudy.

“Ah! Tidak mungkin ada orang yang mau minum air got! Di sana ada penjual air minum kok!” kata ayah Rudy.

“Mbak, di sini jual air minum nggak?” tanya ibu.

“Ada kok bu. Dingin atau biasa?” tanya mbak Luna (penjual toko).

“Biasa” jawab ibu.

“Botol atau gelas?” tanya mbak Luna.

“Botol” jawab ibu.

“Berapa botol?” tanya mbak Luna.

“Empat!” kata ibu yang sudah mulai kesal.

“Semuanya jadi Rp20.000” kata mbak Luna.

“Ini!” kata ibu sambil menyerahkan uangnya.

“Kok mbaknya bertanya terus ya?” tanya Rudy.

“Iya! Itulah mengapa tadi ibu memberinya uang secara cepat karena ibu kesal!” kata ibu.

“Ngomong-ngomong, sudah 3 permainan yang kita mainkan. Roller coaster, seluncur air, dan trampolin. Permainan apa lagi ya?” tanya ayah.

“Gimana kalau labirin cermin?” tanya Rudy.

“Ayuk! Terakhir kali aku ke taman bermain ini, aku tidak sempat bermain labirin cermin” kata Ahmad.

Sesampainya di labirin cermin.....

“Ayo kita masuk!” kata Rudy.

Merekapun masuk ke labirin..

Puk! 

“Aduuuh! Aku pikir ini adalah jalannya, ternyata kaca!” kata Rudy yang tidak memerhatikan.

“Makanya kamu harus meraba agar kamu menemukan jalan keluarnya” kata Ahmad.

Puk!

“Aduuuh!” kata Ahmad.

“Tuh kan! Kamu juga yang tak memerhatikan!” kata Rudy.

“Ya! Ibu dapat jalan keluarnya!” kata ibu Ketika keluar dari labirin... 

“Apa yang dimainkan selanjutnya ya?.... oh tidak! Astagfirullahalazhiim! Kita semua lupa sholat dhuhur dan ashar, ini sudah masuk pukul 17.00!” kata Ahmad sambil melihat jam tangannya.

“Oh iya! Astaga! Ayo kita ke musholla!” kata ibu.

Setelah mereka sholat... 

“Aku laper nih....” kata Rudy.

“Iya aku juga, oh iya! Ibuku memberiku makanan tadi pagi! Semoga makanannya belum basi” kata Ahmad.

“Wah... kamu membawa nasi goreng ya?” tanya Rudy.

“Iya! Untung masih belum basi! Ibuku memberiku 4 kotak untuk kita makan berempat” kata Ahmad.

NYAM! NYAM! NYAM! 

Setelah mereka makan.... 

“Yum! Rasanya enak banget!” kata Rudy.

“Terima kasih makanannya ya!” kata ibu.

“Tidak perlu berterima kasih! Ini sebagai tanda berterima kasihku kepada kalian karena telah membawaku berjalan-jalan” kata Ahmad.

Setelah mereka makan..... 

“Sebelum kita pulang, kita bermain satu permainan lagi yuk! Apa ya permainannya?” tanya Rudy.

“Kita main sepeda aja yuk!” ajak Ahmad.

“Iya! Ayo kita main!” kata Rudy.

Di situ memang ada sepeda yang boleh dipinjam oleh anak-anak maupun dewasa.

Syung! Syung! Syung!

Setelah bermain sepeda.... 

“Ayo kita pulang!” kata Ibu.

Sesampainya di rumah Ahmad.... 

“Wah... terima kasih telah membawa anak saya jalan-jalan” kata ibu Ahmad kepada ibu Rudy.

“Ini sebagai tanda terima kasih kami karena anak ibu telah mengizinkan anak saya untuk belajar di sini sehingga nilai rapornya meningkat” kata ibu Rudy.

“Sama-sama” kata ibu Ahmad.

“Kalau begitu, saya pamit ya bu! Assalamualaikum!” kata ibu Rudy.

“Wa’alaikumussalam!” jawab Ibu Ahmad.

Tok!

“Nah... kamu tidak kapok kan berbuat baik kepada orang lain. Sebab, jika kamu berbuat baik kepada seseorang akan mendatangkan berkah pada dirimu sendiri” kata ibu kepada Ahmad.

“Iya bu! Mulai sekarang aku akan belajar berbuat baik kepada orang lain agar aku mendapat pahala dari Allah swt” kata Ahmad.

“Ayo kita sholat maghrib di masjid berjama’ah yuk!” ajak ayah.

“Ayo!” jawab Ahmad.

Sejak itu, Ahmad pun sering berbuat baik kepada orang lain dan Allah akan memberikan pahala dan berkah sesuai dari yang dilakukannya.

SELESAI

Rajin Belajar Agar Mendapat Nilai yang Tinggi

0 komentar
Di sekolah Ahmad, ada seorang siswa yang nilainya paling rendah di kelas. Anak itu bernama Rudy. Walaupun dia jago dalam kegiatan bermain, dia ternyata malas belajar. Suatu hari, Ahmad melihat Rudy sedang bermain dengan teman-teman yang lain. 

“Hai, Rudy! Kamu sedang apa?” tanya Ahmad

Sumber : Pixabay
“Oh, hai Ahmad! Kami sedang bermain sepak bola” jawab Rudy

“Oh, kenapa tidak membaca buku saja di perpustakaan? kan ada banyak buku baru yang baru di perpustakaan itu” tanya Ahmad kembali.

“Hmmm.... iya juga yah, kalau begitu ayo kita pergi semuanya!” ajak Rino (teman kelas Ahmad).

“Ayo!” sahut teman yang lain.

“Kalian semua mau  pergi ke perpustakaan? kan bermain lebih seru..” kata Rudy.

“Terserah kamu lah kalau tidak mau ikut ke perpustakaan!” kata teman-teman lain.

“Huh! Ini semua gara-gara Ahmad! Teman-teman jadi malas bermain dan malah pergi ke perpustakaan! Membosankan!” keluh Rudy di dalam hati.
Sesampainya di perpustakaan, mereka semua langsung memilih buku yang mereka sukai. Ahmad yang melihat Rudy cemberut sambil memegang buku menghampirinya.

“Woy! Rudy! Kok kamu cemberut kayak gitu, sih?” tanya Ahmad.

“Aku  kan maunya bermain, kamu malah ajak kami ke perpustakaan. kan belajar adalah hal yang paling kubenci!” kata Rudy.

“Kalau gitu... coba kamu aku tes kamu, 25 ditambah 13?” tanya Ahmad.

“Hmmmmm...... apakah 40?” tanya Rudy kembali.

“Teng! Salah, jawabannya adalah 38” kata Ahmad.

“Huh! kan ini matematika, matematika kan pelajaran yang paling nggak aku suka!” keluh Rudy.

“Ini cuma penjumlahan, anak kelas 1 kalau ditanya juga bakalan tahu. Baiklah, kalau... Dasar negara Indonesia apa?” tanya Ahmad.

“Hmmm.... Tunas Kelapa?” tanya Rudy.

“Salah! Jawabannya Pancasila. Kok Tunas Kelapa sih? Tunas kelapa itu lambang Pramuka.” Kata Ahmad.

“Waduh! Kalau begini terus, nanti aku akan turun kelas! Mulai saat ini, aku akan belajar sungguh-sungguh agar mendapat nilai tinggi pada ujian kali ini!” sumpah Rudy.

“Nah... ini baru namanya semangat! Kalau gitu, ayo kita baca buku sama-sama!” ajak Ahmad.

“Ayo! Tapi se.....” kata Rudy.

KRRIIINGGGG......! KRRIIINGGGG......!

“Nanti aja kalau pulang sekolah,  sekarang sudah waktunya masuk kelas!” kata Ahmad

Mereka pun masuk ke kelas dan belajar. Kali ini Rudy terlihat berbeda. Dia lebih memerhatikan guru mengajar daripada bermain.

“Hai Rudy! Kali ini kamu memerhatikan gurumu ya? Wah... agar dapat nilai seratus kali nih...” canda bu Sirna (guru bahasa inggris)

“Iya bu! Aku tidak mau lagi dapat nilai nol besar. Itu sangat menyebalkan!” kata Rudy.

“Nanti kalau kamu ibu kasih soal, pasti bisa kamu bisa jawab, tetap semangat ya!” kata bu Sirna

“ Makasih ya bu!” kata Rudy
Ketika bu Sirna selesai menjelaskan, bu Sirna pun  membagikan  soal pada anak-anak.

“Work carefully yah? Don’t be noise” kata bu Sirna

“All right bu!”jawab anak-anak.
Setelah mengerjakan soal, bu Sirna pun memberi nilai.

“Wah.... congratulations! You get a value of 95” kata bu Sirna kepada Rudy.

“Wah... thank you bu!” kata Rudy

“Hai Rudy, kamu dapat nilai berapa? Aku dapet 96 nih......” tanya Ahmad.

“Kayaknya kita cuma beda 1 nih... aku dapat nilai 95!!” seru Rudy

“Itu karena, kamu memerhatikan bu guru dengan saksama. Gimana kalau nanti kamu datang ke rumahku ya? Nanti kita belajar sama-sama agar mendapat nilai yang tinggi di ujian pekan depan!” tanya Ahmad.

“Baiklah nanti sudah sholah Azhar aku datang ke rumahmu ya!” jawab Rudy.

“What are you talking about, children?” sela Bu Sirna.

“Oh, next hour four we will both learn in his home Ahmad. So... we can answer the question on the replay next week” jawab Rudy.

“Hebat! Kamu hebat berbahasa inggris Rudy, kamu cuma harus memperbaiki sedikit cara penyebutannya” kata bu Sirna.

“Thank you bu!” kata Rudy

KRIIIIING....!

Mereka pun pulang ke rumah masing masing. Sesuai janji mereka, Rudy pergi ke rumah Ahmad.

“Assalamu alaikum” kata Rudy

“Wa’alaikumussalam. Eh mari masuk, ibuku sudah buatin teh dan kue untuk kita makan berdua lho...” ajak Ahmad.

“Eh, nggak perlu repot-repot kok. Aku kan datang kesini mau belajar dengan kamu.” Kata Rudy.

“Ah, ayo masuk. Kita makan kue dan minum teh di kamarku sambil ngerjain tugas!” kata Ahmad.

Mereka pun masuk ke dalam kamar.

“Kamu hafal pancasila?” tanya Rudy.

“Iya. kamu?” Jawab Ahmad.

“Tidak. Tolong bantu aku hafal ya...kumohon” kata Rudy.

“Oke, sini aku sebutkan:
Satu, Ketuhanan yang maha esa.
Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kamu harus menghafal pancasila, karena pancasila akan ada di ulangan PKN. Ulangan PKN dan IPA akan ada pada hari senin depan. Jadi kita hari ini akan belajar PKN dan IPA.” Kata Ahmad.

“Iya. Aku coba dulu ...
Pancasila:
Satu, Ketuhanan yang maha esa
Bla bla bla bla (disini Rudy menghafalkan dengan baik pancasila ya, teman-teman)”

“Tuh kan, kamu hafal, sekarang kita menghafal simbol pancasila. Sekarang kamu aku tanya, apa simbol pancasila yang sila pertama?” tanya Ahmad.

“Bintang?”

“Betul! Kalau kedua?”

“Rantai kan?”

“Iya! Tiga?”

“Pohon beringin”

“Empat?”

“Kepala banteng”

“Terakhir?”

“Padi dan kapas!”

“Ya! Well done! Kamu itu beneran hafal?”

“Tidak. Aku kan lihat buku..”

“Apa!? Pantesan dari tadi aku bingung kenapa kamu bisa hafal. Biasanya kan di kelas kamu tidak hafal. Coba kamu ulang..”

“Baiklah! Satu, bintang
Dua, rantai
Tiga, pohon beringin
Empat, kepala banteng
Lima, padi dan kapas”

“Wah... sudah mau magrib nih... besok lagi ya! Kamu datang ke rumah ku bawa buku pelajaran IPA.  Besok aja belajar IPA karena sudah mau malam”

“Baiklah Assalamualaikum!”

“Waalaikumussalam!”

Rudy pun kembali ke rumahnya. Rudy mandi dan mengganti baju muslim lalu pergi untuk sholat maghrib di masjid terdekat. Setelah sholat, Rudy tak lupa berdo’a:
Ya Allah, tolong beri aku kemudahan agar bisa mengerjakan ulangan kali ini. Aku tidak akan patah semangat untuk tetap belajar dan belajar. Karena engkau ya Allah, pernah menyebut dalam firmanmu, fa inna ma’al ‘usri yusrhaa. inna ma’al usri yushraa, artinya, sesungguhnya sesudah kesudahan ada kemudahan (Q.S asy-syarh:5-6). Ya Allah, engkau bahkan menyebutkannya sebanyak dua kali untuk mengingatkan manusia yang kesusahan seperti aku ini untuk berusaha sebisa mungkin agar bisa mencapai kemudahan. Amiiin..

Selesai berdo’a, Rudy pulang ke rumah dan belajar IPA.

Keesokan harinya....

“Ibu......ibu lihat buku IPA ku?” tanya Rudy kepada ibunya. Rudy mencari bukunya karena ingin pergi ke rumah Ahmad belajar IPA.

“Tidak. Emangnya kamu nyimpannya dimana? Dan kamu mau ngapain?” tanya ibu.

“Aku mau pergi ke rumahnya Ahmad bu. Kemarin sehabis belajar IPA.... oh iya! Aku menyimpannya di meja makan. Kemarin sih selesai belajar aku lapar dan pergi makan. Nah... di situ aku nyimpan bukunya” jawab Rudy.

“Kapan mau pergi?” tanya ibu,

“Sesudah makan” jawab Rudy.

Sesudah makan...

“Assalamualaikum bu, saya pergi dulu ya!” kata Rudy.

“Wa’alaikumussalam!” jawab ibu.

Sesampainya di rumah Ahmad...

“Assalamualaikum!” kata Rudy.

“Wa’alaikumussalam, ayo masuk” ajak Ahmad.

Ya... begitulah. Rudy  selalu datang ke rumah Ahmad jika ada waktu luang untuk belajar. Lama kelamaan Rudy makin pintar mengerjakan soal di sekolahnya maupun PR di rumah.

Hari ulangan akhir semester tiba. Hari ini, senin, Rudy terlihat sangat mudah mengerjakan soal IPA.

“Wah... soal semudah ini sih bisa aku kerjakan” kata Rudy dalam hati.

“Baiklah waktu habis. Sini lembar jawabannya” kata bu Nisa (guru IPA)

Beberapa menit kemudian, datanglah guru PKN.

“Baiklah anak-anak, sekarang kerjakan ulangan PKN dalam waktu 30 menit. Mulai dari sekarang!” kata bu Sari (guru PKN)

“Waktu habis! Kumpulkan ulangan kalian di sini ya” kata bu Sari

“Anak-anak, sekarang kalian boleh pulang karena hari ini kita hanya ulangan” kata bu Rina (wali kelas Ahmad)

Ketika sudah selesai ulangan akhir semester, direncanakan akan dilaksanakan penerima’an raport di taman bunga.

Orang tua Rudy pun datang mengambil rapor. Ayah dan ibu Rudy kagum dengan keberhasilan anaknya. Selama ini Rudy tidak pernah mendapat nilai tinggi. Sekarang nilai di rapor Rudy memuaskan mereka.

“Wah... Rudy! Ibu bangga kepadamu. Nilaimu semua tinggi-tinggi. Sebagai hadiah untukmu ibu akan mengajakmu ke restoran Pelangi dan memesan apa yang kamu inginkan” kata ibu.

“Terima kasih bu. Ini semua berkat do’a ibu dan do’a yang selalu aku panjatkan bu. Ini juga berkat Ahmad yang membantuku belajar. Ahmad terima kasih ya, kamu udah membantuku” kata Rudy yang juga ketemu dengan Ahmad.

“Sama-sama Rudy. Sekarang, kita sudah naik kelas lima. Pertahankan prestasi mu ya Rudy” kata Ahmad.

Selesai